Saturday, January 24, 2009

Jangan Politikkan Nama "Allah".


The Word 'Allah' is not a monopoly of UMNO

Arabic speakers of all Abrahamic faith, including Christians and Jews use the word "Allah" to mean God. Abrahamic faith denotes any or all the religions including Islam, Christianity and Judaism that revere Abraham, the Biblical patriarch.

The Christian Arabs of today have no other word for God than Allah. Even today's Christians' Arabic bibles use the word Allah for God and in the Middle East, Christians sometimes name their children "Abdallah".

According to Wikipedia, the Arabic-descended Maltese language of Malta, whose population is almost entirely Roman Catholic, uses Allah for God. The only difference is that they spell it Alla.

That is not all. The Arab Jews in Medina used the word Allah for God in their holy scriptures.

Therefore, since when did the word Allah become the monopoly of ruling UMNO and the Muslim world? Instead of prohibiting Catholic weekly "Herald" from using the word Allah, Home Minister Syed Hamid Albar should learn to google for facts and information.

Issuing subtle threats to ban the weekly altogether would not go down well in multi-religious Malaysia. Neither would Syed Hamid's snappy remarks about being tolerant towards other religions in the country as he makes it out to mean non-Muslims should be grateful to be allowed to practice their respective faiths.

The senior cabinet minister must also refrain from making an issue out of a non-issue especially since Herald's editor Father Lawrence Andrew has clearly said that the word Allah has been used as a translation for God, for centuries in Malaysia.

It was not meant to hurt the sensitivities of Muslims.

But it is clear that Syed Hamid is using this dispute to score brownie points with the Malays, who have shunned the ruling government. This was evident at last year's general election which saw the ruling coalition's worst ever performance and at the weekend by-election in Kuala Terengganu which was won by PAS.

Further attempts to manipulate the issue for political gains would, inevitably, create a backlash from the public and especially the Malay community who are fed-up with populist measures undertaken by the government and UMNO.

Charles Santiago
Member of Parliament, Klang

Ulasan: Sememangnya pihak berwajib di negara ini harus menidakkan penggunaan nama "Allah" daripada digunakan oleh penganut ugama lain dari Islam.Perkara ini tidak pernah timbul waktu dulu tetapi keghairahan golongan Kristian untuk menggunakannya dilihat mempunyai agendanya tersendiri.

Apakah agenda yang tersembunyi yang mahu dipertontonkan oleh golongan Kristian ini?Sedangkan mereka terang-terangan menganggap Nabi Isa a.s sebagai Tuhan tetapi kini beralih pula untuk menggunakan nama "Allah".Apabila pihak berwajib melarang mereka, maka mereka menggunakan pendekatan politik untuk menuntut agar dibenarkan nama "Allah" digunakan.Jika penggunaan nama "Allah" itu dibenarkan maka akan timbul kekeliruan, maka mudahlah fahaman dan ajaran Kristian itu diperluaskan kepada remaja-remaja ataupun mereka-mereka yang jahil tentang agama.

Sesungguhnya nama "Allah" itu amat besar pengertiannya dan ia bukanlah sekadar nama sahaja.Di dalam Al-Quran telah diperjelaskan tentang kebesaran,kekuasaan,sifat-sifat dan macam-macam lagi tentang Allah swt.Apakah mereka boleh menerima apa yang telah dirakamkan oleh Allah di dalam kitab suci Al-Quran?Seandainya nama "Allah" itu dibenarkan penggunaannya oleh musuh Islam maka akan berlaku satu pendustaan terhadap firman-firman Allah.Di dalam kitab Bible Kristian, segala-galanya adalah ditulis sebagai "according to John, according to Matthew, according to Mark dan berbagai-bagai lagi.Sedangkan segala yang terkandung di dalam Al-Quran adalah jelas daripada Allah swt dan Rasullullah s.a.w hanyalah menyampaikannya setiap apa yang telah diwahyukan kepadanya.

Penyekatan penggunaan nama "Allah" itu bukanlah keputusan ahli politik yang memerintah.Setiap umat Islam yang ada di negara ini seharusnya bangkit untuk mempertahankannya kerana kesucian kalimah Allah itu tidak boleh sewenang-wenangnya dipermainkan sebagai bahan politik.Apakah parti pembangkang yang seringkali mengutarakan untuk melaksanakan hukum Allah sanggup membenarkan musuh Islam menggunakan nama "Allah" demi untuk mengaburi mata umat Islam yang lain?Di sini tidak ada kompromi kerana nama "Allah" itu selayaknya diucapkan oleh mereka-mereka yang beriman kepadaNya.

No comments: